Selasa, 20 Maret 2012

TUGAS PERILAKU KEORGANISASIAN



BAB 1

I. Studi Tentang Organisas
Perilaku Organisasi adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang perilaku tingkat individu dan tingkat kelompok dalam suatu organisasi serta dampaknya terhadap kinerja (baik kinerja individual, kelompok, maupun organisasi).  Perilaku organisasi juga dikenal sebagai studi tentang organisasi. Studi ini adalah sebuah bidang telaah akademik khusus yang mempelajari organisasi, dengan memanfaatkan metode-metode dari ekonomisosiologiilmu politikantropologi dan psikologi. Disiplin-disiplin lain yang terkait dengan studi ini adalah studi tentang sumber daya manusia danpsikologi industri, Studi organisasi adalah telaah tentang pribadi dan dinamika kelompok dan konteks organisasi, serta sifat organisasi itu sendiri. Setiap kali orang berinteraksi dalam organisasi, banyak faktor yang ikut bermain. Studi organisasi berusaha untuk memahami dan menyusun model-model dari faktor-faktor ini.
Seperti halnya dengan semua ilmu sosial, perilaku organisasi berusaha untuk mengontrolmemprediksikan, dan menjelaskan. Namun ada sejumlah kontroversi mengenai dampak etis dari pemusatan perhatian terhadap perilaku pekerja. Karena itu, perilaku organisasi (dan studi yang berdekatan dengannya, yaitu psikologi industri) kadang-kadang dituduh telah menjadi alat ilmiah bagi pihak yang berkuasa. Terlepas dari tuduhan-tuduhan itu, Perilaku Organisasi dapat memainkan peranan penting dalam perkembangan organisasi dan keberhasilan kerja.

II. Alat untuk mencapai tujuan
Tebal muka adalah suatu kemampuan untuk menerima setiap kondisi yang menuntut untuk mengacuhkan anggapan orang lain. Sementara itu, hati hitam adalah suatu kemampuan untuk bertindak tanpa menghiraukan pendapat orang lain. Jadi untuk dapat maju terus dalam memperjuangkan tujuan kita, baik hati hitam maupun tebal muka haruslah hadir bersama, dan kedua faktor tersebut akan selalu saling mendukung.
Ada 3 tahapan dalam hati hitam tebal muka
1. Memenangkan tanpa mengorbankan
Tingkat dasar: tak bermoral, akan mengerjakan apapun untuk mencapai tujuannya. Pada tahap ini, tebal muka akan menghasilkan tanpa kesadaran sama sekali, dan hati hitam akan menghasilkan tanpa ampun sama sekali. Tahapan ini akan menghasilkan apa yang dinamakan sebagai Tebal bagai tembok, hitam bagai batu bara. Contoh untuk tahap ini adalah: pelacur murahan dan penjahat.
2. Pencarian Jiwa
Pada tahap ini, seseorang mulai menyadari bahwa untuk menaklukan orang lain membutuhkan tenaga, tetapi untuk menaklukan diri sendiri membutuhkan kekuatan. Pada tahap ini seseorang mulai mengerti bahwa tindakannya pada tahap pertama terdiri dari aksi-aksi yang memalukan. Maka pada tahap ini, mulai akan disadari akan arti dari kebijaksanaan.
3. Kesatria
Kesatria memiliki sifat tidak melekat dan tenang Kesatria adalah seseorang yang selalu merasa takut dalam peperangan, bahkan berkeringat dan gemetaran, namun ketakutannya ini tidak membuat jiwanya takut. Pada tahap ini seseorang telah menacapi perstuan jiwa dan raga.

III. Devinisi perilaku organisasi
              Struktur organisasi mempengaruhi bagaimana informasi dikomunikasikan dan keputusan tersebut. Faktor lingkungan eksternal memiliki pengaruh yang kuat pada masing-masing tingkatan analisis. Misalnya rendahnya produktivitas, karyawan yang malas/tidak masuk kerja. Kelambanan dalam penyelesaian unjuk rasa dan dipihak lain banyaknya desakan factor lingkungan yang mempengaruhi efektifitas organisasi, seperti: Tuntutan konsumen akan produk yang berkualitas tinggi, persaingan yang

Perilaku Keorganisasian merupakan bidang studi yang mempelajari tentang interaksi manusia dalam organisasi, meliputi studi secara sistimatis tentang prilaku, struktur dan proses dalam Organisasi. Organisasi diciptakan oleh manusia untuk mencapai suatu tujuan, dan pada saat yang sama manusia juga membutukan Organisasi untuk mengembangkan dirinya. Oleh sebab itu antara organisasi dengan manusia memiliki hubungankan yang saling membutuhkan dan menguntungkan. Mempelajari perilaku keorganisasian sivatyah agak abstrak, tidak menghasilkan perinsip-perinsip yang sederhana, tetapi seringkali menemui perinsip-perinsip yang komplek dimana penjelasan atau analisanya bersifat situasional. Dalam perilaku keorganisasian tidak ada prinsip-prinsip yang berlaku umum yang dapat diterapkan pada semua situasi.
Pendekatan Pengetahuan Perilaku Organisasi
Perilaku organisasi umumnya berasal dari teori system, teori system memiliki dua konsep dasar yaitu :
1. Konsep subsistem yang melihat hubungan antar bagian sebagai hubungan sebab akib at
2. Konsep kedua memandang sebab jamak sebagai hubungan yang saling berkaitan
    Sistem social.
Ada dua pola system yakni :
1. open system (system terbuka)
2. closed system (system tertutup)
            Suatu system dikatakan “terbuka”, jika mempunyai transaksi dengan lingkungan dimana ia berada.transaksi antara suatu organisasi dengan lingkungannya mencakup ‘input” dan “output”. Input biasanya dalam bentuk informasi, energy, uang, pegawai, material dan perlengkapan yang diterima organisasi dari lingkungannya. Output organisasi pada lingkungannya dapat berbentuk macam-macam tergantung pada sifat organisasi.
Organisasi sebagai system yang menciptakan dan menjaga lingkungan didalamnya memuat interaksi manusia yang kompleks ( baik antar individu maupun dalam kelompok).perilaku organisasi merupakan suatu disiplin ilmu yang mempelajari bagaimana seharusnya perilaku tingkat individu, tingkaat kelompok, serta dampaknya terhadap kinerja (baik kinerja individual, kelompok, maupun organisasi).
Perilaku organisasi juga dikenal sebagai studi tentang organisasi. Studi ini adalah sebuah bidang telaah akademik khusus yang mempelajari organisasi, dengan memanfaatkan metode-metode dari ekonomi, sosiologi, ilmu politik, antropologi, dan sumber daya manusia dan pisikologi industry serta perilaku organisasi. Seperti halnya dengan semua ilmu social, perilaku organisasi berusaha untuk mengontrol, memprediksikaan, dan menjelaskan. Namun ada sejumlah kontroversi mengenai dampak etis dari pemusatan perhatian terhadap perilaku pekerja. Karena itu , perilaku organisasi (dan studi yang berdekatan denganya, yaitu psikologi industry)kadang-kadang dituduh telah menjadi alat ilmiah bagi pihak yang berkuasa. Terlepas dari tuduhan-tuduhan itu, perilaku organisasi dapat memainkan peranan penting dalam perkembangan organisasi dan keberhasilan kerja.

IV. Ruang Lingkup Perilaku Organisasi
            Perilaku organisasi,sesugguhnya terbentuk dari perilaku-perilaku individu yang terdapat dalam organisasi tersebut dengan demikian dapat dilihat bahwa ruang lingkup kajian ilmu perilaku organisasi hanya terbatas pada dimensi internal dari suatu organisasi. Aspek-aspek yang menjadi unsur-unsur komponen atau subsistem dari ilmu perilaku organisasi antara lain adalah :
1. Motivasi
proses psikologis yang merupakan salah satu unsur pokok dalam perilaku seseorang. motivasi bertalian erat dengan suatu tujuan. Makin berharga tujuan itu bagi yang bersangkutan, makin kuat pula motovasinya. Jadi motivasi itu sangat berguna bagi tindakan atas perbuatan seseorang.
2. Kepemimpinan
Menurut Wahjosumidjo (1992 : 171), kepemimpinan mempunyai peranan sentral dalam kehidupan organisasi, dimana terjadi interaksi kerjasama antar dua orang atau lebih dalam mencapai tujuan. Bahkan beberapa pakar mengasosiasikan kegagalan ataupun keberhasilan suatu organisasi dengan pemimpinnya.
3. Konflik
Di bagi dua
Konflik Negatif ialah konflik di mana pihak-pihak yang terlibat merasa rugi karena konflik itu. Hal itu bisa terjadi walaupun pihak luar melihat pihak yang merasa kalah itu sudah unggul. Jadi faktor persepsi dan perasaan kalah memegang peranan penting. Konflik yang negatif dan merusak ini muncul dalam bentuk yang dikenal sebagai spiral konflik. Spiral konflik ini hanya memiliki satu arah yaitu meningkat dan maju. Ciri-cirinya, hubungan negatif itu hamper otomatis mengahasilkan hubungan negatif lainnya. Dalam spiral ini salah satu pihak akan berusaha untuk mengubah struktur hubungan dan membatasi pilihan pihak lain, untuk mencari keuntungan sepihak.
Salah satu bentuk konflik negatif ialah suatu konflik yang tidak terselesaikan. Hal ini bisa terjadi dengan salah satu pihak menarik diri. Ini dilakukan dengan pengetahuan bahwa pihak lainnya akan dirugiak oleh keputusan itu.
Konflik Positif berguna untuk suatu masyarakat atau kelompok yang memungkinkan ekspresi konflik yang terbuka dan memungkinkan pergeseran keseimbangan kekuasaan. Konflik akan memberikan transisi untuk suatu hubungan baru yang terus direvisi.
Ciri-ciri dari konflik yang positif ialah adanya transformasi dari elemen-elemen konflik, yaitu: cara konflik itu diekspresikan, persepsi tentang kebutuhan dan tujuan, ersepsi tentang kemungkinan pemenuhannya, tingkat persepsi bahwa kedua belah pihak sebenarnya saling terkait, serta jenis kerja sama dan oposisi. Dengan kata lain kedua pihak akan merasa diperkaya di dalam hubungan mereka. Mereka akan lebih bersedia bekerja sama dan bersedia untuk mengatasi konflik dengan lebih terbuka di masa depan.

4. Hubungan komunikasi
dalam hal berkomunikasi, sering terjadi suatu kondisi dimana posisi seseorang dominan dibanding yang lainnya. Atau mungkin juga, seseorang memiliki informasi yang lebih banyak dan luas, sehingga pihak yang menjadi lawan bicaranya menjadi pasif, kurang responsif dan cenderung mengiyakan saja. Bahkan tidak jarang terjadi, seseorang yang ingin berkomunikasi dengan orang lain sudah memiliki rasa tidak percaya diri, takut, ewuh pakewuh, minder, atau gemetar. Jadi jelaslah bahwa proses komunikasi antar dua orang atau lebih seringkali berada pada posisi yang tidak sederajat (asymetric relation), sehingga nilai obyektivitas dan efektivitas dari proses komunikasi tadi dapat terganggu. Selanjutnya apabila kondisi in berjalan terus tanpa upaya antisipasi, maka tujuan dari diadakannya komunikasi tadi menjadi terhambat. Oleh karena itu, proses komunikasi hendaknya berjalan secara wajar, terbuka, dan sejajar.

V. Pemecahan masalah & pengambilan keputusan
dalam kehidupan suatu organisasi, sering ditemui adanya perbedaan pendapat,perbedaan dalam keputusan, perbedaan kepentingan, perbedaan cara mencapai tujuan, maupun konflik antar anggota organisasi yang bersangkutan. Disamping itu, dalam skala yang lebih luas, organisasi tidak jarang menghadapi berbagai kondisi kurang menguntungkan seperti : adanya hambatan dalam proses pelaksanaan kegiatan, kebingungan dalam menentukan arah dan misinya, kegagalan merealisasikan rencana yang telah disusun, kesalahan dalam mengantisipasi suatu fenomena, dan sebagainya.

BAB 2

Variabel variabel  yang mempengaruhi perilaku induvidu
A. Pengertian Perilaku
Perilaku dapat diartikan suatu respons organisme atau seseorang terhadap rangsangan dari luar subjek tersebut. Perilaku diartikan sebagai suatu aksi-reaksi organisme terhadap lingkungannya. Perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yakni yang disebut rangsangan. Berarti rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu. Perilaku manusia adalah aktivitas yang timbul karena adanya stimulus dan respons serta dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung.

B. Perbedaan-perbedaan Perilaku Individu
Mengapa manusia itu berbeda dalam bertindak diantaranya adalah:
1. Manusia berbeda karena berbeda kemampuannya.
Setiap manusia memiliki perbedaan dalam berperilaku karena proses penyerapan informasi yang berbeda dari setiap individu tersebut yang kemudian mempangaruhi perilaku seseorang dalam bertindak.
2. Manusia berbeda perilakunya karena adanya perbedaan kebutuhan.
Hal ini merupakan bagian dari teori motivasi yang ditemukan oleh para ilmuwan psikologi seperti, Maslow, Mcleland, McGregor, dll. Kebutuhan manusia menjadi motif secara intrinsik individu tersebut dalam berperilaku.
3. Manusia berbeda karena mempunyai lingkungan yang berbeda dalam mempengaruhinya.
Faktor lingkungan sangat berpengaruh pada manusia, suatu keputusan yang dibuat oleh individu dapat dipengaruhi dengan apa yang terjadi diluar dari dirinya dengan kata lain motivasi eksternal berperan disini. Lingkungan membentuk manusia menjadi lebih baik atau menjadi jahat, ramah, atau sombong.
4. Faktor Like or Dislike with Something
Percaya atau tidak faktor ini juga mempengaruhi seseorang dalam berperilaku, apabila seseorang tidak suka pada atasannya dalam memimpin, maka apapun yang dikatakan atasan hanya merupakan masukan tidak langsung dilakukan.

C. Variabel – Variabel yang Mempengaruhi Perilaku Individu
Kelompok variable individu terdiri dari variable kemampuan dan keterampilan, latar belakang pribadi dan demografis.
Menurut Gibson ( 1987 ) : Variabel kemampuan dan ketrampilan merupakan factor utama yang mempegaruhi perilaku kerja dan kinerja individu . Sedangkan variabel demografis mempunyai pegaruh yang tidak langsung .
Kelompok variabel psikologis terdiri dari variabel persepsi , sikap, kepribadian , belajar , dan motivasi.
Variabel ini menurut Gibson ( 1987 ) : banyak di pengaruhi oleh keluarga, tingkat sosial, pengalaman kerja sebelumnya dan variabel demografis.

D. Teori – Teori yang Mempengaruhi Perilaku
1. Teori Kepemimpinan ( Leadership )
Kreiner menyatakan bahwa leadership adalah proses mempengaruhi orang lain yang mana seorang pemimpin mengajak anak buahnya secara sukarela berpartisipasi guna mencapai tujuan organisasi.Salah satu contoh teori kepemimpinan :
Teori LPC dari Fielder
Fielder mengembangkan suatu ukuran orientasi pemimpin yang disebut rekan sekerja yang kurang disukai dan rekan kerja yang disukai ( LPC ).
• Pemimpin yang Memberi Nilai LPC Rendah
  Dianggap terutama berorientasi pada pekerjaan
• Pemimpin yang Memberi Nilai LPC Tinggi
Dianggap terutama berorintasi terhadap hubungan.
Teori Kemungkinannya
 Pemimpin mempunyai hubungan yang baik dengan anggota – anggota kelompok, sebagaimana dapat diukur dari tingkat penerimaan mereka terhadap pemimpin itu.
 Kekuasaan serta kedudukan pemimpin itu sedemikian tingginya sehingga bermenangu untuk memberi imbalan ( Reward ) atau menghukum anggotanya.
 Tugasnya memiliki struktur yang baik sehingga ada tujuan yang jelas, beberapa cara untuk menyelesaikan tugas dan kritera yang jelas mengenai keberhasilan.
2. Teori Behaviorisme
Dalam teori behaviorisme, ingin menganalisa hanya perilaku yang nampak saja, yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Teori kaum behavoris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya perbahan perilaku organise sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau memperoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalian oleh faktor-faktor lingkungan. Dalam arti teori belajar yang lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberirespon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka.
adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi.Yang terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan pengulangan. Kelemahan teori ini adalah belajar hanyalah terjadi secara otomatis keaktifan dan penentuan pribadi dihiraukan.Skinner (1904-1990) Skinner menganggap reward dan rierforcement merupakan factor penting dalan belajar. Skinner berpendapat bahwa tujuan psikologi adalah meramal mengontrol tingkah laku. Pda teori ini guru memberi penghargaan hadiah atau nilai tinggi sehingga anak akan lebih rajin. Teori ini juga disebut dengan operant conditioning. . Operans conditioning adalah suatu proses penguatan perilaku operans yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat diulang kembali atau menghilang sesuai keinginan.Behaviorsime memang agak sukar menjelaskan motivasi. Motivasi terjadi dalam diri individu, sedang kaum behavioris hanya melihat pada peristiwa-peristiwa eksternal. Perasaan dan pikiran orang tidak menarik mereka. Behaviorisme muncul sebagai reaksi pada psikologi ”mentalistik”.

 E. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Manusia
 Faktor Personal :
1. Faktor Biologis
Faktor biologis terlibat dalam seluruh kegiatan manusia, bahkan berpadu dengan faktor-faktor sosiopsikologis. Menurut Wilson, perilaku sosial dibimbing oleh aturan-aturan yang sudah diprogram secara genetis dalam jiwa manusia.
2. Faktor Sosiopsikologis
Kita dapat mengkalsifikasikannya ke dalam tiga komponen.
• Komponen Afektif
merupakan aspek emosional dari faktor sosiopsikologis, didahulukan karena erat kaitannya dengan pembicaraan sebelumnya.
• Komponen Kognitif
Aspek intelektual yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia.
• Komponen Konatif
Aspek volisional, yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak.

v Faktor Situsional
Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku manusia adalah faktor situasional. Menurut pendekatan ini, perilaku manusia dipengaruhi oleh lingkungan/situasi. Faktor-faktor situasional ini berupa:
• faktor ekologis, misal kondisi alam atau iklim
• faktor rancangan dan arsitektural, misal penataan ruang
• faktor temporal, misal keadaan emosi
• suasana perilaku, misal cara berpakaian dan cara berbicara
• teknologi
• faktor sosial, mencakup sistem peran, struktur sosial dan karakteristik sosial individu
• lingkungan psikososial yaitu persepsi seseorang terhadap lingkungannya
BAB 3

Perilaku Kelompok dan Interpersonal
Masyarakat Lease yang bermukim di tiga pulau yang terkenal dengan nama kepulauan Lease  yakni Haruku, Saparua dan Nusalaut, sejak dahulu terkenal cukup  maju dan melahirkan pemikir-pemikir besar serta  terkenal, baik pada tataran nasional maupun internasional. Orang-orang Lease  sering identik dengan sifat-sifatnya yang  temperamental, namun juga sentimentil, sehingga sebenarnya terjadi perpaduan antara keduanya dan melahirkan manusia-manusia yang agak emoisonal, sekaligus ceria  karena  mampu memberikan pencerahan dengan melahirkan karya-karya seni yang menghibur orang lain. Kondisi masyarakat yang demikian sebenarnya mempunyai pengaruh signifikan terhadap  pandangan dan pemahaman  terhadap hukum dan hak asasi manusia.
                Jika dicermati dari aspek hukum dan hak asasi manusia, sebenarnya membutuhkan suatu kajian mendalam melalui penelitian ilmiah untuk menjustifikasi pemahaman masyarakat Lease tentang hukum dan hak asasi manusia. Ketika diminta untuk memberikan suatu pandangan atau    gambaran umum  tentang hal itu maka dengan bekal pengetahuan  yang terbatas maka saya memberanikan diri untuk menyampaikan beberapa pokok pikiran berdasarkan pengamatan sepintas, dalam rangka memenuhi tuntutan seminar ini.
                Masyarakat Lease yang bermukim tidak terlalu jauh dari pusat pemerintahan di Provinsi Maluku, ( Kota Ambon ) sebenarnya mempunyai cukup pengetahuan dan pemahaman tentang aspek-aspek hukum dan hak asasi manusia, karena komunikasi yang begitu lancar dan juga informasi yang sering  diterima melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik. Pernyataan ini patut diuji lagi, karena kedekatan dan  komunikasi  dengan pusat-pusat pemerintahan, sebenarnya  tidak merupakan jaminan   tingkat  pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik  tentang aspek hukum dan hak asasi manusia.
                                      

 Jenis-jenis Kelompok
 2.1. Kelompok berdasarkan perawatan
Kelompok yang dibentuk berdasarkan perawatan atau dipanggil juga kelompok pemulihan atau pendidikan dibahagikan kepada beberapa jenis yang utama iaitu :
1. Kelompok tugasan
2. Kelompok Psikoterapi
3. Kelompok Perkembangan ataupun pengalaman
4. Kelompok kaunseling ataupun teraputik
5. Kelompok Bantu diri
6. Kelompok Bimbingan
Kelompok Tugasan
Kelompok tugasan adalah merupakan kelompok yang dibentuk dengan tujuan untuk mencapai sesuatu matlamat yang telah disasarkan. Kelompok jenis ini adalah memfokuskan pencapaian tugasan bagi kumpulan dan tidak menfokus kepada pencapaian individu. Menurut Association for Specialist in Group Work (ASGW, 2000) kelompok tugasan mempromosi pencapaian tugasan kumpulan yang cekap dan berkesan di kalangan individu yang dikumpul bagi melaksanakan tugas itu.
Kelompok ini tidak berfokus untuk mengubah individu sebaliknya penekanan adalah kepada pencapaian dalam melaksanakan sesuatu tugas yang telah diberikan. Proses dalam kelompok berlaku dengan penumpuan diberikan untuk menyelesaikan masalah mengikut tugasan kelompok. Ahli kelompok memberikan sepenuh perhatian kepada tugasan yang ditetapkan, brainstorming dilakukan bagi memikirkan pelan tindakan dan kata sepakat harus dicapai bagi melaksanakan pelan tindakan yang telah dibincangkan. Kejayaan kelompok tugasan ini banyak bergantung kepada sejauh mana dinamiknya kelompok itu. Pemimpin kelompok memainkan peranan penting untuk membina kelompok yang dinamik tersebut. Oleh itu pemimpin kelompok harus menggunakan kemahiran teraputiknya untuk membina kepercayaan, kerjasama dan kejelekitan dalam kalangan ahli kelompok bagi menggerakkan kelompok menjadi kelompok yang proaktif dan produktif. Setelah tahap kejelekitan telah wujud maka ia akan menarik komitmen, penglibatan dan sokongan setiap ahli kelompok.
Namun demikian terdapat beberapa kelemahan dalam pengendalian kelompok jenis ini iaitu:
1. Ahli tidak jelas dengan peranan dan tujuan kelompok.
Ahli-ahli kelompok mungkin ada yang tidak jelas peranan mereka dan tujuan berada dalam kelompok. Oleh itu mereka tidak dapat memberikan komitmen yang sepenuhnya semasa berada dalam kelompok.
2. Ahli yang pasif
Oleh kerana ada ahli tidak jelas maka mereka akan lebih banyak berdiam diri dalam kelompok. Ahli yang pasif juga disebabkan mungkin adal dalam kalangan mereka yang tidak pernah mengikuti sesi kelompok dan apabila berada dalam kelompok mereka merasa tidak selesa dan sukar untuk memberikan kerjasama kepada ahli-ahli lain dalam kelompok.
Oleh yang demikian Hulse-Killacky, Killacky & Donigian (2000) dalam Ida (2006), telah menggariskan beberapa andaian untuk memastikan kelompok tugasan berfungsi dengan lebih baik iaitu :
1. Tujuan kelompok jelas kepada semua ahli.
2. Proses dan kandungan kelompok adalah seimbang.
3. Sistem kelompok yang mengandungi pemimpin ahli dikenal pasti serta diperakui.
4. Masa yang mencukupi diambil bagi membina budaya dan pembelajaran berkaitan
5. Etika kerjasama dan rasa hormat diperkembangkan dan disemai.
6. Konflik dikenal pasti.
7. Maklum balas diberikan.
8. Pemimpin memberi tumpuan kepada isu ‘di sini dan kini’
9. Ahli adalah merupakan sumber yang aktif.
10. Ahli mempelajari cara bagi ahli yang berkesan dan berpengaruh.
11. Pemimpin mempamerkan set kemahiran yang ditetapkan bagi membantu ahli menangani isu  tugas dan hubungan kemanusiaan.
 12. Ahli dan pemimpin mengambil masa bagi mengimbas apa yang berlaku sepanjang sesi.
Andaian-andaian di atas jika dapat dipenuhi akan dapat memastikan kelompok berfungsi  dengan baik.

ciri ciri kelompok
ciri ciri pembelajaran kooperatif adalah setiap anggota memiliki peran, terjadi hubungan interaksi langsung diantara siswa, setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya, guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok, dan guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan. Tiga konsep sentral yang menjadi karakteristik pembelajaran sebagaimana dikemukakan Slavin (1995) dalam bukunya Isjoni (2009: 33), yaitu :  karakteristik pembelajaran sebagaimana dikemukakan Slavin (1995) dalam bukunya Isjoni (2009: 33), yaitu : Penghargaan kelompok, penghargaan kelompok ini diperoleh jika kelompok mencapai skor diatas kriteria yang ditentukan. Pertanggung jawaban individu, pertanggungjawaban ini menitikberatkan pada aktivitas anggota kelompok yang saling membentu dalam belajar. Kesempatan yang sama untuk berhasil, setiap siswa baik yang berprestasi rendah atau tinggi sama-sama memperoleh kesempatan untuk  model pembelajaran terus mengalami perubahan dari model tradisional menujumodel yang lebih modern. Model pembelajaran berfungsi untuk memberikan situasi pembelajaran yang tersusun rapi untuk memberikan suatu aktivitas kepada siswa guna mencapai tujuan pembelajaran. Sejalan dengan pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran, salah satu model pembelajaran yang kini banyak mendapat respon adalah modelpembelajaran kooperatif. Kooperatif berasal dari bahasa Inggris yaitu Cooperate yang berart  pembelajaran merupakan strategi yang digunakan oleh guru untuk meningkatkan motivasi belajar, sikap belajar dikalangan siswa, mampu berpikir kritis, memiliki keterampilan sosial, dan pencapaian hasil pembelajaran yang lebih optimal (Isjoni, 2009: 8). Merujuk pada hal ini perkembangan model pembelajaran terus mengalami perubahan dari model tradisional menuju model yang lebih modern. Model pembelajaran berfungsi untuk memberikan situasi pembelajaran yang tersusun rapi untuk memberikan suatu aktiv

konsep dan peran kelompok
Setiap dari kita mesti mempunyai suatu gambaran atau pandangan tentang diri kita sendiri. Gambaran ini disebut konsep kendiri atau imej kendiri. Ia merangkumi gambaran tentang rupa, kesihatan, kebolehan, kelemahan dan tingkah laku kita. Konsep kendiri dibentuk hasil daripada interaksi anda dengan orang lain dan penyesuaian diri anda dengan alam sekitar. Penyesuaian yang berjaya akan menghasilkan konsep kendiri positif manakala kegagalan akan membawa kepada konsep kendiri negatif. Konsep kendiri seseorang juga dipengaruhi oleh tanggapan orang lain terhadap dirinya.
Perlu diingatkan bahawa konsep kendiri hanya akan terbentuk apabila kita berinteraksi dengan seseorang dan penyesuaian diri dengan alam sekitar.Takrifan konsep kendiri: ‘Gambaran atau pandangan tentang rupa, kesihatan, kebolehan, kelemahan dan tingkah laku diri sendiri’
Konsep kendiri telah diperkenalkan oleh William James (Deaux & Wrights, 1988). James telah menyifatkan kendiri sebagai ‘saya’ atau ‘aku’. Dan ‘aku’ dilihat dari perspektif yang luas dan meliputi badan, pemikiran, pakaian, tempat tinggal, isteri, anak-anak, kawan-kawan, nenek moyang, reputasi, taraf pendidikan dan perkara-perkara yang berkaitan dengan diri sendiri. Ini semua merupakan suatu pengalaman yang luas dan mempengaruhi kesejahteraan diri. James juga mempercayai pengalaman kendiri ini merupakan pengalaman sosial di mana identiti personal bergantung kepada hubungan kita dengan orang lain serta menjadi hak peribadi. Konsep kendiri juga merupakan identiti diri dan ia mempengaruhi diri dengan persekitaran sosial.
Konsep kendiri yang teguh ialah dengan memastikan keseimbangan JERIS (Jasmani, Emosi, Rohani, Intelek dan Sosial) di dalam hidup atau diri seseorang.
Konsep Pergaulan Sosial – jenis-jenis pergaulan yang disukai atau tidak serta penerimaan masyarakat terhadap diri individu.
Konsep Emosi – seperti periang, sensitif dan sebagainya
Konsep Intelek – prestasi di dalam pelajaran serta konflik diri terhadap tahap kebijaksanaan yang terdapat di dalam diri individu.
Konsep kendiri terdiri daripada dua jenis iaitu konsep kendiri positif dan konsep kendiri negatif.
Individu yang mempunyai konsep kendiri yang positif lazimnya dapat menghadapi masalah dan cabaran-cabaran dengan tabah, bersifat optimistik, sikap lebih terbuka serta sedia menerima pendapat dan kritikan orang lain. Dia bersifat lebih relaks, mudah berinteraksi dengan orang lain serta senang dihampiri. Keadaan emosinya lebih tenang dan stabil.
Individu yang mempunyai konsep kendiri negatif akan berasa tidak puas hati, tidak gembira, cepat merajuk serta mudah tersinggung perasaannya. Masalah-masalah tingkah laku seperti ini menyebabkan dirinya kurang diterima oleh rakan-rakan sebaya, guru dan masyarakat. Keadaan ini akan memburukkan lagi imej kendiri pelajar berkenaan. Mereka akan mempunyai araskeyakinan diri yang rendah, sifat rendah diri, pasif, muram, tidak bersedia untuk bersosialisasi ataupun mula menarik diri, mudah tersinggung, tidak gembira, cepat merajuk dan pesimistik.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar